<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8688527788999897026</id><updated>2011-04-21T13:02:05.276-07:00</updated><title type='text'>HERI NIHON MAULANA</title><subtitle type='html'>Ass. Hajimemashite, WELLCOME to my home:)
Ini ruang publikasi dan sosialisasi pribadi demi 
eksistensi seorang intelektual profetik.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://herinihonmaulana.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8688527788999897026/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://herinihonmaulana.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Heri Maulana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06693797436117913390</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>4</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8688527788999897026.post-4125626635077809989</id><published>2007-11-21T16:07:00.001-08:00</published><updated>2007-11-21T16:19:38.903-08:00</updated><title type='text'>MAHASISWA MANA AKSI MU?</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; line-height: 150%;"&gt;Oleh : Heri Maulana&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; line-height: 150%;"&gt;(Ketua BEM FIP UNY/Wakil Sekretaris Jenderal Wilayah Jawa &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; line-height: 150%;" lang="FI"&gt;Ikatan Mahasiswa Keguruan dan Ilmu Pendidikan Seluruh Indonesia/IMAKIPSI)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;i&gt;“Siapa yang hidup hanya bagi dirinya, akan hidup sebagai manusia kecil dan mati sebagai manusia kecil. Sedangkan manusia besar adalah mereka yang hidup bagi orang lain, hidup sebagai manusia besar dan takkan mati selamanya”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Sebuah catatan di atas yang dikutip dari buku Arsitek Peradaban karya Anis Matta mampu mengingatkan kita pada kondisi kampus sekarang dan bahkan dimasa mendatang. Pertambahan jumlah mahasiswa membuktikan bahwa bangsa ini tidak akan kekurangan persediaan kaum-kaum intelektual, pembangunan sarana dan prasarana kampus sudah cukup menunjukkan keseriusan bangsa ini untuk melayani kaum-kaum intelektual itu. Namun di tengah gemerlap pembangunan dan gedung-gedung yang serba canggih dan megah ternyata sedikit mengaburkan pandangan terhadap kualitas sumber daya manusia yang dihasilkan. Ribuan mahasiswa yang menjejali gedung mewah itu hampir tidak terlihat mana yang menjadi mahasiswa-mahasiswa BESAR. &lt;/span&gt;Mungkinkah gemerlap dan virus 3 F (Fun Foods Fashion) sudah menjadi identitas mahasiswa?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 150%;"&gt;Kampus sudah menjadi tempat tumbuh suburnya berbagai macam pola hidup, tidak hanya ilmu pengetahuan dan teknologi bahkan &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;gaya&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; hidup sudah menjadi bagian didalamnya. Sayangnya, bukan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang dengan pesat, tetapi &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;gaya&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; hiduplah yang lebih subur di kalangan intelektual. Di satu sisi, mahasiswa plus atau mahasiswa yang aktif di berbagai organisasi selalu dikatakan kaum yang idealis, di sisi lainnya mahasiswa yang hanya kuliah dan kuliah dikatakan individualis dan opportunis. Semua label yang diberikan ini tidak lain hanya sikap putus asa yang ditunjukkan oleh sebagian pihak yang pada kenyataannya tidak berbuat apa-apa.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 150%;"&gt;Mahasiswa merupakan sebuah potensi besar yang menentukan tinggi rendahnya, maju mundurnya, dan beradab atau tidaknya suatu bangsa. Tingkat ketersediaan lulusan sarjana menjadi tolak ukur kemajuan sebuah negara, maka tidak heran bila negara-negara maju berjuang keras untuk memaksimalkan potensi yang bernama mahasiswa. Banyak kalangan yang memberikan pandangan yang beragam terhadap sosok mahasiswa, seperti Edward Shill mengelompokkan mahasiswa sebagai lapisan intelektual yang memiliki tanggung jawab sosial yang khas. Shill menunjukkan &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;lima&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; fungsi kaum intelektual yaitu mencipta dan menyebar kebudayaan tinggi, menyediakan bagan-bagan nasional dan antar bangsa, membina keberdayaan dan bersama, mempengaruhi perubahan sosial dan memainkan peran politik. Sementara itu Samuel Huntington menyimpulkan bahwa kaum intelektual di perkotaan merupakan bagian yang mendorong perubahan politik yang disebut reformasi seperti yang dialami oleh bangsa &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; beberapa kurun tahun belakangan ini.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 150%;"&gt;Peran besar yang diambil oleh mahasiswa dalam reformasi ini dapat dibandingkan dengan kesimpulan Arbi Sanit (pengamat politik nasional) yang membagi empat hal/faktor pendorong bagi peningkatan peranan mahasiswa dalam kehidupan politik. &lt;strong&gt;Pertama&lt;/strong&gt;, sebagai kelompok masyarakat yang memperoleh pendidikan terbaik, mahasiswa mempunyai horison yang luas diantara masyarakat. &lt;strong&gt;Kedua&lt;/strong&gt;, sebagai kelompok masyarakat yang paling lama menduduki bangku sekolah, sampai di universitas mahasiswa telah mengalami proses sosialisasi politik yang terpanjang diantara angkatan muda. &lt;strong&gt;Ketiga,&lt;/strong&gt; kehidupan kampus membentuk &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;gaya&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; hidup yang unik di kalangan mahasiswa. Di universitas, mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah, suku, bahasa dan agama terjalin dalam kegiatan kampus sehari-hari. &lt;strong&gt;Keempat&lt;/strong&gt;, mahasiswa sebagai kelompok yang akan memasuki lapisan atas dari susunan kekuasaan, struktur perekonomian dan prestise dalam masyarakat dengan sendirinya merupakan elit di dalam kalangan angkatan muda.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 150%;"&gt;Sama halnya dengan Arbi Sanit, Dr. Ali Syari’ati juga memiliki pandangan yang khas terhadap mahasiswa yaitu sosok yang menjadi orang yang tercerahkan (dapat menyatu dengan masyarakat menghilangkan gap intelek non intelek). Dr Ali Syari’ati menyatakan bahwa seorang intelektual haruslah mampu mengkomunikasikan ide dan keintelektualannya kepada masyarakat, yang dengan itu ia lebih mudah membangun masyarakatnya. Beliau menyebut mereka dengan sebutan orang-orang yang tercerahkan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 150%;"&gt;Orang-orang yang tercerahkan itu adalah orang yang sadar akan ‘keadaan kemanusiaan’ (human condition) di masanya, serta &lt;i style=""&gt;setting&lt;/i&gt; kesejarahannya dan kemasyarakatnnya. &lt;span style="" lang="FI"&gt;Kesadaran semacam ini dengan sendirinya akan memberikan rasa tanggung jawab sosial. Jika kebetulan ia termasuk kalangan terpelajar, maka ia akan lebih berpengaruh; dan jika tidak, maka kurang pula pengaruhnya. Mereka bertujuan untuk memberikan kepada ummatnya sebuah keyakinan bersama yang dinamis yang membantu mereka untuk mencapai kesadaran diri dan merumuskan cita-cita mereka. Dengan demikian maka intelektual adalah bukan sekelompok elit seperti menara gading yang bercerita dan berangan-angan tentang sebuah peradaban namun gagal mentransformasikan hal itu ke tengah masyarakat program-program yang realistis. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Pandangan inilah yang cukup menegaskan betapa pentingnya peran mahasiswa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, hal inilah yang melatarbelakangi pentingnya seluruh elemen mahasiswa untuk dapat berpartisipasi dalam pesta demokrasi kampus yaitu Pemilihan Umum Mahasiswa (PEMILWA) yang kurang lebih sama dengan fungsi-fungsi yang diketengahkan oleh beberapa tokoh di atas. PEMILWA sebagai media pergantian kepemimpinan organisasi tingkat mahasiswa ini sudah saatnya diorientasikan kembali sebagai jembatan penghubung antara idealisme yang selama ini menjadi sorotan publik dengan pencapaian-pencapaian strategis yang lebih mengakar dan memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat kampus dan masyarakat luas. Tentunya PEMILWA yang menghabis dana yang tidak sedikit perlu diwacanakan secara lantang bahwa proses regenerasi inilah yang merupakan semangat untuk selalu hidup berprestasi dan tidak meninggalkan generasi yang lemah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Momen tahunan ini menjadi pembuktian seberapa besarkah perhatian dan semangat mahasiswa dalam berperan membangun semangat perubahan ke arah yang lebih baik di kampus, seberapa pedulikah mahasiswa dengan peran &lt;i&gt;moral force &lt;/i&gt;kepada pihak birokrasi dan lingkungan kampus, seberapa besarkah keinginan mahasiswa untuk mengembalikan pendidikan sebagai pintu gerbang perbaikan nasib bangsa dan negara, dan seberapa luaskah keikhlasan yang dimiliki oleh mahasiswa untuk senantiasa menjunjung tinggi semangat untuk berprestasi sehingga kita mampu membongkar tuduhan bahwa mahasiswa adalah sosok yang terlalu idealis tetapi tidak realistis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;PEMILWA menjadi pintu gerbang pembuktian apakah kita menjadi mahasiswa kecil yang hidup hanya untuk diri sendiri, atau memutuskan untuk menjadi manusia besar yang hidup untuk orang lain, hidup menjadi sebagai manusia besar dan takkan mati selamanya. Sekaranglah waktunya untuk membuktikan kalau mahasiswa yang selalu mengatakan mahasiswa aktivis adalah mahasiswa sok idealis benar-benar memiliki peran dalam perjuangan dan perubahan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8688527788999897026-4125626635077809989?l=herinihonmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://herinihonmaulana.blogspot.com/feeds/4125626635077809989/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8688527788999897026&amp;postID=4125626635077809989' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8688527788999897026/posts/default/4125626635077809989'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8688527788999897026/posts/default/4125626635077809989'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://herinihonmaulana.blogspot.com/2007/11/mahasiswa-mana-aksi-mu.html' title='MAHASISWA MANA AKSI MU?'/><author><name>Heri Maulana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06693797436117913390</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8688527788999897026.post-5480380380430074883</id><published>2007-11-15T18:47:00.001-08:00</published><updated>2007-11-15T19:16:04.986-08:00</updated><title type='text'>MEMBANGUN KEPEKAAN SOSIAL (KECERDASAN EMOSIONAL) MELALUI INTERAKSI SEKOLAH INKLUSI</title><content type='html'>&lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="DE"&gt;Oleh: HERI MAULANA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="DE"&gt;(Transformator Pendidikan)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;" lang="DE"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;" lang="DE" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;UU Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab III ayat 5, menyebutkan bahwa setiap warga negara memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan. Hal ini dapat diartikan semua orang berhak memperoleh pendidikan yan layak sama dan tanpa diskriminasi, termasuk warga negara yang memiliki kesulitan belajar seperti kesulitan membaca (disleksia), menulis (disgrafia) dan menghitung (diskalkulia) maupun penyandang ketunaan (tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, dan tunalaras). Dengan demikian, tidak ada lagi pemisahan atau perbedaan pemenuhan kebutuhan pendidikan bagi warga negara Indonesia yang memiliki kelainan dan atau kesulitan belajar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;" lang="DE" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa memungkinkan terwujudnya kebebasan dalam memperoleh pendidikan. Salah satu yang dihasilkan adalah internet, internet menghasilkan program pendidikan tanpa batas dan dapat dinikmati oleh siapa saja di seluruh dunia. Sama halnya dengan perkembangan dalam dunia pendidikan. Dahulu kita mengenal pendidikan khusus bagi anak yang memiliki “kebutuhan khusus” dalam belajar, mereka dibedakan dan “terbatasi” dengan dunia luar dan sosial. Bertahun-tahun mereka hanya dapat melihat dan menyimpulkan dalam hati, “ternyata dunia begitu sempit dan duniaku terpisah jauh dari yang lainnya”. Secara kebutuhan memang pendidikan khusus dapat memberikan perhatian dan pendekatan pendidikan yang tepat dan fokus, tetapi bagaimana dengan kondisi emosional bagi anak berkesulitan belajar (kebutuhan khusus)? Ternyata mereka juga memiliki perasaan untuk diperhatikan dan dipandang sama dengan anak-anak yang normal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;" lang="DE" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Pada perkembangannya, diperkenalkanlah program pendidikan yang tidak lagi memisahkan antara anak yang berkebutuhan khusus dengan anak yang normal, program ini lebih dikenal dengan pendidikan terpadu atau inklusi, program pendidikan ini merupakan bentuk pelayanan dan bantuan yang diberikan kepada anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus di sekolah umum (mengikutsertakan anak-anak berkebutuhan khusus/cacat untuk belajar bersama-sama dengan anak-anak normal sebayanya di sekolah umum), yang pada akhirnya mereka menjadi bagian dari masyarakat sekolah itu, sehingga tercipta suasana pembelajaran yang kondusif (Rogers dan Moore dalam Sunardi :1997). Hal ini sejalan dengan Surat Keputusan (SK) Mendikbud Nomor: 002/U/1986 Pasal 1 ayat 1 yang menyatakan bahwa pendidikan terpadu ialah model penyelenggaraan program pendidikan bagi anak cacat yang diselenggarakan bersama-sama anak normal di lembaga pendidikan umum dengan menggunakan kurikulum yang berlaku di lembaga pendidikan yang bersangkutan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;" lang="DE" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Menurut Dr. Euis Karwati, MPd., Kasubdis PLB Diknas Provinsi Jawa Barat, pada awalnya banyak perdebatan yang timbul dimasyarakat terhadap implementasi pendidikan inklusi, namun pada akhirnya program ini dapat diterima ditengah masyarakat dan Jawa Barat berhasil menjadi provinsi yang terbaik dalam penyelenggaraan program pendidikan inklusi. Selain itu kita juga mengetahui bahwa sudah banyak anak yang berkebutuhan khusus yang sukses dan memiliki banyak prestasi, Sebagaimana yang dicontohkan oleh Amstrong (1997) bahwa banyak penyandang tunarungu memiliki prestasi tingkat nasional maupun internasional seperti: Samuel Jhonson, Thomas Alva Edison, Granvill Redmond, Marlee Matlin, Ludwig Van Beethoven, dan Helen Keller. Selain itu mereka yang memiliki kekurangan dapat berprestasi dalam dunia olahraga/ olympiade dan banyak menjadi motivator dan inspirasi bagi para pengusaha sukses, pemimpin dan orang-orang normal lainnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;" lang="DE" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Banyak hal yang sudah dibuktikan oleh mereka yang selama ini terpisah dan dipisahkan dari kehidupan normal. Keberadaan mereka di dalam pendidikan normal dan sekolah formal sudah seharusnya menjadi sumber baik untuk belajar maupun membangun solidaritas/ kepekaan sosial yang selama ini telah memudar dikalangan terpelajar. Pendidikan yang selama ini hanya berorientasi pada aspek kognitif/ intelegensi sudah seharusnya memperhatikan ranah-ranah yang lainnya, salah satunya adalah aspek emosional (EQ). Kita pahami bahwa sistem pendidikan di USA suah memasukkan aspek EQ sebanyak 80% dalm proses pembelajaran dan di Jepang hanya 10 % IQ dan 90% memasukkan unsur EQ. Kemudian apa yang telah dihasilkan oleh kedua negara besar tersebut sekarang, kemajuan dan kekuatan di segala bidang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;" lang="DE" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Hal ini seharusnya juga sudah diperhatikan oleh masyarakat dan pemerintah kita, dengan segala permasalahan yang kita alami, mulai dari permasalahan moral, kompetensi, kompetisi, dan harga diri. Sama halnya dengan keberadaan anak yang berkebutuhan khusus dan program pendidikan inklus. Besar harapan agar anak berkebutuhan khusus akan memiliki rasa percaya diri. Sebaliknya, anak-anak normal dan teman sekolahnya akan terdidik dan belajar hidup bertoleransi antarsesama manusia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:100%;" lang="DE" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8688527788999897026-5480380380430074883?l=herinihonmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://herinihonmaulana.blogspot.com/feeds/5480380380430074883/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8688527788999897026&amp;postID=5480380380430074883' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8688527788999897026/posts/default/5480380380430074883'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8688527788999897026/posts/default/5480380380430074883'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://herinihonmaulana.blogspot.com/2007/11/membangun-kepekaan-sosial-kecerdasan.html' title='MEMBANGUN KEPEKAAN SOSIAL (KECERDASAN EMOSIONAL) MELALUI INTERAKSI SEKOLAH INKLUSI'/><author><name>Heri Maulana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06693797436117913390</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8688527788999897026.post-7039453297233264901</id><published>2007-11-14T20:12:00.001-08:00</published><updated>2007-11-14T20:12:55.146-08:00</updated><title type='text'>KONSEP DIRI SEBAGAI BAHAN BAKU PESONA MAHASISWA PENDIDIKAN</title><content type='html'>Peran manusia sebagai manusia pribadi dan sosial sudah menjadi trend dalam memahami posisi manusia di dunia. Kedua posisi ini juga merupakan pondasi manusia untuk menjadi tauladan bagi manusia lainnya dalam mejalankan kehidupan. Selain itu manusia sudah direkrut oleh Tuhan Yang Maha Esa sebagai pemimpin-pemimpin hidup yang akan menebarkan kemanfaatan antar manusia. Inilah semua konsep-konsep kehidupan yang sudah menjadi skenario untuk dilalui oleh setiap manusia, apakah dia sebagai orang tua, anak, mahasiswa, pekerja, lurah, bupati, gubernur, presiden sampai manusia yang hina sekalipun.&lt;br /&gt; Bahkan Allah, Tuhan Yang Maha Esa sudah menetapkan bahwa demi waktu manusia dalam kerugian, kecuali yang beriman, beramal saleh dan berwasiat dalam kebenaran dan kesabaran. Inilah fakta yang ilmiah yang mendasari mengapa manusia harus menjadi hamba yang memahami dirinya sehingga dapat berperan di atas bumi ini. Konsep diri, hal inilah yang dewasa ini menjadi pertanyaan atas segala krisis yang dihadapi oleh sebagian besar manusia di seluruh belahan dunia.&lt;br /&gt; Krisis multidimensi dan kehilangan jati diri sebgai manusia sesungguhnya sudah menjadi kesimpulan banyak tokoh-tokoh besar dunia, pengamat politik, tokoh agama sampai rakyat kecil yang hanya bisa menikmati hidup dipinggir-pinggir rel kereta api, dibawah jembatan, dan dibalik jeruji. Banyak ahli pengembangan sumber daya manusia yang memulai mengarahkan seluruh potensinya untuk menemukan dan mengembangkan konsep diri, karakter building atau jati diri.&lt;br /&gt; Mari kita lihat apakah benar konsep diri menjadi permasalahan utama dalam kehidupan bangsa ini. KampusSebagai gambaran realitas terdekat dalan kehidupan kita.Konsep diri ini menjadi bahan baku untuk mengembangkan diri mahasiswa dan pengembangan kampus secara keseluruhan. Melihat kondisi di Fakultas Ilmu Pendidikan ini dapat dijadikan sebagai ukuran kemampuan memahami konsep diri dikalangan mahasiswa, karyawan dan dosen. &lt;br /&gt; Bila mencermati lebih seksama, ternyata kampus sebesar Universitas Negeri Yogyakarta yanh notabene merupakan representasi sebuah kampus pendidikan belum mampu untuk menciptakan formulasi global dan formal kepad masyarakat intelektual maupun umum tentang apakah ada sosok model mahasiswa pendidikan yang benar-benar mampu menjadi figur dan tauladan bagi dunia pendidikan? Inilah pertanyaan besar yang mesti dijawab oleh seluruh civitas akademika sebuah kampus pendidikan, dimanakah Model Mahasiswa Pendidikan Abad 21??&lt;br /&gt; Kemudian merujuk pada referensi yang dikembangkan oleh Anis Matta didalam bukunya ”Model Manusia Muslim Abad 21”, saya mencoba berdiskusi dan meramu tentang bagaimana sebenarnya model atau sosok mahasiswa pendidikan yang benar-benar mampu menjadi problem solver dalam kondisi kehidupan terutama dunia pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kualifikasi Mahasiswa Pendidikan Abad Ke-21&lt;br /&gt;1. Afiliasi&lt;br /&gt;Afiliasi adalah memahami dengan baik alasan kita memilih pendidikan/FIP sebagai tempat belajar dan salah satu jalan hidup. Tahapan ini merupakan tahap diri untuk menjadi manusia pembelajar secara pribadi.&lt;br /&gt;2. Partisipasi&lt;br /&gt;Setelah melalui tahap menjadi manusia pembelajar secara pribadi, kita mulai terlibat kehidupan social masyarakat kampus sebagai salah satu peserta social yang sadar dan proaktif. Disini kita medistribusikan kemampuan dan kepahaman pribadi kepada orang lain agar terjadi kepahaman secara social. Untuk mendukung proses partisipasi ada beberapa hal yang perlu dimiliki:&lt;br /&gt;a. Sense in-group&lt;br /&gt;Hal ini bertujuan untuk membentuk persatuan dan saling menghargai dan memiliki rasa keprihatinan yang tinggi terhadap permasalahan masyarakat.&lt;br /&gt;b. Memiliki sejumlah pengetahuan social humaniora  yang dibutuhkan&lt;br /&gt;dalam kehidupan bermasyarakat.&lt;br /&gt;Tujuannya adalah agar keterlibatan kita dilakukan secara sadar, terarah, dan dewasa. Salah satu ilmu tersebut adalah pengetahuan cara berkomunikasi.&lt;br /&gt;c. Mengetahui dan menguasai peta dan medan lingkungan (kampus) social budaya tempat kita hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Kontribusi&lt;br /&gt;Kontribusi adalah posisi kita untuk memilih satu bidang spesialisasi ilmu atau profesi yang diyakini dapat menjadi ahli dan unggul. Kita tidak mampu untuk menjadi segalanya dan tidak akan pernah sanggup untuk melakukan banyak hal. Keterbatasan kemampuan mengharuskan mahasiswa mengetahui dimana letak titik kekuatan. Profesi itu dapat berupa bidang pemikiran/ilmiah, kepemimpinan, professional/profesi, dan financial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan tulisan yang singkat dan sederhana ini dapat membuka runag diskusi antar mahasisa dan pemuda penduli pendidikan di manapun kita berada, tetap istiqomah dan menjaga kesucian pemikiran kaum muda pendidikan INDONESIA!!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8688527788999897026-7039453297233264901?l=herinihonmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://herinihonmaulana.blogspot.com/feeds/7039453297233264901/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8688527788999897026&amp;postID=7039453297233264901' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8688527788999897026/posts/default/7039453297233264901'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8688527788999897026/posts/default/7039453297233264901'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://herinihonmaulana.blogspot.com/2007/11/konsep-diri-sebagai-bahan-baku-pesona.html' title='KONSEP DIRI SEBAGAI BAHAN BAKU PESONA MAHASISWA PENDIDIKAN'/><author><name>Heri Maulana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06693797436117913390</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8688527788999897026.post-1675990265103492036</id><published>2007-11-05T21:43:00.000-08:00</published><updated>2007-11-05T21:45:19.762-08:00</updated><title type='text'>selayang pandang</title><content type='html'>Selayang Pandang Pameran Teknologi Pendidikan 2007&lt;br /&gt;Sebuah perjalanan Metamorphosa Teknologi Pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Assalamu`alaikum Wr.Wb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Puji syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan kita nikmat, rahmat dan karunia sehingga dapat menyelenggarakan pameran teknologi pendidikan ini.&lt;br /&gt;            An education…&lt;br /&gt;            Berawal dari kepedulian kami terhadap dunia pendidikan di negeri ini, dari sebuah tempat studi yang akrab kami kenal dengan sebutan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan atau sering kita sebut Jurusan KTP. Sebuah program studi dibawah naungan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang mempunyai misi diharapkan dapat menciptakan para teknolog-teknolog pendidikan yang professional dan berwawasan global yang mampu berkarya melalui berbagi kompetensi yang dimiliki. Kompetensi yang dikuasai pun sesuai dengan kawasan Teknologi Pendidikan yakni Pengembangan, Pemanfaatan, Pengelolaan, Penilaian, serta Desain berbagai sumber belajar maupun proses pembelajaran. Sehingga dengan adanya teknologi pendidikan belajar menjadi LEBIH MUDAH dan MENYENANGKAN !!!&lt;br /&gt;            Dengan semangat kepedulian dan kebersamaan kami terhadap dunia pendidikan dan jurusan kami, maka kami bermaksud untuk menyelenggarakan Pameran Teknologi pendidikan yang bertempat di Auditorium UNY. Dengan demikian melalui pameran teknologi pendidikan ini diharapkan akan dapat membantu dalam mengenalkan berbagai media dan metode pembelajaran pada masyarakat luas untuk mengoptimalkan pembelajaran sesuai dengan tujuan yang ditentukan. Selain itu pameran ini juga bertujuan untuk mensosialisasikan jurusan Teknologi Pendidikan kepada masyarakat luas serta sebagai wahana untuk menampilkan hasil karya mahasiswa Teknologi Pendidikan.&lt;br /&gt;Tema yang kami angkat pada pameran kali ini adalah “Metamorphosa Teknologi Pendidikan”. Ide pemikiran ini muncul dari beberapa fakta yang ada di negeri ini, yakni adanya suatu perubahan penyelenggaraan pendidikan secara signifikan. Pendidikan yang dahulu kala hanya dikenal dengan sekolah, guru, buku, dsb. Kini dengan berkembangnya IPTEK, pendidikan dapat berkembang dengan pesat. Dari sabak ke kertas, dari kertas ke buku, dari buku ke computer, computer ke Multimedia, dst. Sehingga menurut kami proses perubahan itu kami sebut  “METAMORPHOSA” teknologi pendidikan. Suatu proses yang pada dahulu kala kata Belajar itu menjadi sebuah beban, kini dengan adanya kemajuan IPTEK menjadi lebih mudah dan menyenangkan untuk siapa saja, kapan saja dan dimana saja.  Sehingga  dapat diibaratkan pendidikan kini menjelma menjadi kupu-kupu yang cantik, yang hinggap pada bunga-bunga yang indah, dan kehadirannya menyebabkan berseminya serbuk sari dan kepala putik menjadi buah. Yah.. suatu hasil sempurna setelah melewati perjalanan yang panjang dan penuh rintangan. Demikian yang diharapkan pada dunia pendidikan kita. Tidak hanya sebagai modal utama pembangunan bangsa, namun juga dapat berguna untuk Investasi Peradaban Bangsa kita.&lt;br /&gt;Dari gagasan yang ada, kami tuangkan dalam berbagai bentuk acara dalam rangkaian Pameran Pendidikan. Dalam Kegiatan ini, pameran media Teknologi Pendidikan merupakan acara utama.  Media-media yang dipamerkan berupa media audio, audio-visual, CD pembelajaran, grafis, serta berbagai media tepat guna lainnya.  Media yang dipamerkan diperoleh dari laboratorium Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan dan juga dari berbagai lembaga yang bekerjasama dengan jurusan, seperti dari LPMP, BPMR, P3G Matematika, JSC, dan BTKP. Selain acara utama.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8688527788999897026-1675990265103492036?l=herinihonmaulana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://herinihonmaulana.blogspot.com/feeds/1675990265103492036/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8688527788999897026&amp;postID=1675990265103492036' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8688527788999897026/posts/default/1675990265103492036'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8688527788999897026/posts/default/1675990265103492036'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://herinihonmaulana.blogspot.com/2007/11/selayang-pandang.html' title='selayang pandang'/><author><name>Heri Maulana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06693797436117913390</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
